Tampilkan postingan dengan label whvdejavato. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label whvdejavato. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2016

Jalan-jalan Gratis seminggu di Jogja!

Siapa yang nggak mau? It’s almost a year from that event, but not too late right? Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya tentang perjalanan saya di jogja selama satu minggu, dimana semuanya bisa didapatkan secara gratis, hehehe. Mau tau caranya? Simak saja ya...
Jadi, tahun lalu adalah tahun dimana saya sangat kurang piknik. Berbagai aktifitas dan kegiatan kuliah serta UKM membuat saya terkungkung dalam rutinitas yang melelahkan. Ya, walau di dalamnya banyak tersimpan hikmah dan cerita suka duka. Sekian lama saya ingin pergi berkelana, piknik kejogja. Dari diajakin sama temen karib, rencana sama para sahabat, diajakin mantan ta’aruf, upps hehe. Semuanya belum bisa tercapai, terlebih waktu yang tiada luangnya demi kuliah dan kegiatan yang harus sama-sama dilakoni.
Hingga akhirnya, saya melihat sebuah kesempatan emas untuk meraih Jogja! World Heritage Volunteer Program dari Dejavato. Kegiatan sosial budaya bertempat di sekitar Prambanan dan area Jogjakarta. Persyaratannya mudah, hanya butuh mahasiswa yang punya hati mulia dan attitude serta karakter yang baik dan pandai berbahasa inggris. Lebih spesialnya lagi gratis makan dan akomodasi selama 7 hari! Wow sekali deh. Awalnya saya hanya coba-coba, mengajak seorang teman untuk ikut mendaftar. Lumayan ntar bisa ketemu bule juga.
Jadi, Dejavato itu adalah sebuah yayasan sosial yang bergerak di bidang pertukaran mahasiswa atau masyarakat Indonesia dengan beberapa negara asing dalam rangka mempelajari budaya negara satu sama lain dan mempererat persahabatan.  Banyak kegiatan dejavato yang melibatkan volunteer atau sukarelawan dari Indonesia dan luar negeri.  Seperti beasiswa buat sekolah ke luar negeri, culture exchange, seminar internasional, dan lain-lain. Diantaranya adalah WHV ini. Program WHV ditujukan untuk mengajak para volunteer khususnya anak muda dan yang masih mahasiswa buat ikut dalam pelestarian budaya dan cagar budayanya. Program WHV ini mengambil tempat di Klaten yaitu sekitar candi Prambanan yang memiliki banyak peninggalan, budaya dan wisata di sekitarnya. Sekiranya cukup untuk pencerahan tentang dejavato dan WHV ini, kalo masih penasaran anda bisa membuka sendiri di website dejavato.or.id. Disana bakal banyak informasi yang memungkinkan kamu bahkan bisa travel ke luar negeri.
WHV ini dilaksanakan setiap tahun sekali, mungkin dalam beberapa sesi. Jadi buat kalian yang rindu tantangan, ayo ikut. Kepoin aja terus situs dejavato, dan jadi member, kali aja bisa beruntung ke Jogja gratis, bahkan terbang ke luar negeri. Waaaah....
Kala itu, sekitar bulan Agustus tahun 2015... Saya iseng buka facebook, jika ujian sudah lewat, kegiatan tidak begitu ketat saya mencari cari informasi tenang liburan nanti mau ngapain ya? Tidak sengaja di facebook dosen bahasa inggris, saya melihat pembukaan pendaftaran WHV ini. Mumpung gratis, hehe. Setelah mengirimkan form, beberapa waktu kemudian saya menerima panggilan untuk tes wawancara bahasa inggris via ponsel. Harap-harap cemas, kalo rejeki saya ya Alhamdulillah. Kalo enggak ya ntar kapan kapan bisa ke jogja sendiri lah, hehe. Waktu itu saya mendaftar dengan seorang teman yang juga coba-coba, siapa tahu bisa liburan bareng.
Namun, email yang saya terima memuat perasaan bahagia dan kecewa. Ternyata saya berhasil lolos tanpa teman saya, hmmm. Kira-kira diambil ngga ya?
Dengan keyakinan penuh akhirnya saya mengambil kesempatan ini, buat Jogja gitu loooh. Kebetulan peserta yang lolos ada yang satu kota sama saya, Alhamdulillah ada temen. Akhirnya kami saling contact dan memutuskan pergi bersama. Karena kita harus pergi sendiri ke Klaten, baru dijemput di dekat site. Bersama-sama kami berempat (karena ada tambahan barengan dari semarang) naik bus ke Jogja yang lamaaaa banget dan pas macettt banget. Sampai telat sekitar tiga jam buat waktu berkumpulnya, hiks.
Setibanya di terminal prambanan, kami menunggu jemputan mobil yang akan membawa kami ke homestay. Perjalanan dari kota, melewati prambanan, dan kebun-kebun serasa wahh. Menyegarkan sekali, menuju tempat baru, selalu ada sensasi tersendiri, hehe. Jadi, homestay kami berada jauh dan tidak jauh dari candi prambanan dan candi di sekitarnya. Jauh jika berjalan, deket kalo naik kendaraan hehe.    
Selama seminggu itu, kami melakukan berbagai hal. Diantaranya, restorasi candi, sosialisasi dengan warga sekitar, melihat secara langsung home industry, nyoba mainin gamelan, nonton sendratari ramayana, mengajar di sekolah, mengunjungi tempat-tempat turistik dan candi, teristimewanya Jogjakarta dan masih banyaaaaak lagi. Dan, gratis lagi, hehe. Dan semua tempat itu kami kunjungi dengan berjalan kaki atau bersepeda. Dengan jarak ya yang jauh dan agak jauh lagi, siang malam pakai sepeda. Hahaha, sebuah pengalaman yang tak terlupakan!

Oke, next simak kisah saya selanjutnya tentang WHV adventure saya jika kamu masih penasaran.

Senin, 18 Juli 2016

Kebiasaan makan orang Indonesia yang aneh di mata orang asing

Jalan-jalan di youtube, pertama saya melihat sebuah video tentang kebiasaan aneh orang Indonesia di mata orang bule. Hehehe, memang ada beberapa hal yang aneh dan unik cuma ada di Indonesia dan ya memang menurut orang asing mungkin agak aneh.
Hal-hal tersebut memang saya temui langsung pada saat bertemu dengan orang bule. Teringat dengan Gohary, David dan  Halla, bule asal Mesir, Amerika dan Islandia. 
Pertama, soal makan. Ternyata orang bule ngga suka makan yang pedes-pedes. Soalnya sewaktu menu makan pakai sambal, mereka bener-bener kepedesan, padahal menurut orang Indonesia saja ngga pedes. Tapi ya, memang beda lidah sih, terus mereka lebih suka yang manis-manis. Terkadang kalo bikin teh atau kopi, ngasih gulanya banyak banget. Entah karena selera mereka yang suka manis-manis atau gimana. Memang soal lidah beda orang beda rasa kali ya.
Selain rasa makanan, cara makan. Orang Indonesia biasanya makan pake tangan buat beberapa menu sih, nah pas ada beberapa orang Indonesia makan pake tangan, para bule ini terheran-heran sampe penasaran, emang bisa makan pake tangan? Uhuhu :D Lebih sedep bro, akhirnya mereka pun nyobain makan pake tangan, si David dan Gohari yang bule Amerika dan Mesir itu makan pake tangan dengan jumputan emmm bukan jumputan sih bisa dikatakan genggaman, haha. Lucu kalo lihat bule bertingkah aneh gitu, sampai ada salah satu teman saya yang ngajarin. Akhirnya mereka makan pake tangan sampe habis, yeeehehe. Duh, abang-abang bule ini. Akhirnya bisa makan pake tangan, haha.
Lalu, soal minum. Cuma ada di indonesia : minuman dibungkus plastik. Khayal banget, ngelihat ekspresi Halla waktu pertama kali nyobain es teh di dalem kantong plastik. Wahhaha, ngebayanginnya se ekspresif heran-amazing sama apa yang dia minum. Setelah habis satu kantong plastik es teh, eh dia ketagihan pengen minum susu. Heeehe, ibu-ibu penjualnya sampai keheranan. Apa yang diherankan? Dia minta dibuatin susu di kantong yang sama! Aduh Halla, amazing sih amazing ya tapi kenapa ga mau diganti plastiknya?? Dan belakangan saya menyadari, orang barat selain itu ya ramah lingkungan juga, dari pada nambahin sampah plastik kan mending dipake lagi ya? hahaha,,,
It's been a year, almost. We became the world Heritage Volunteer dari Dejavato. Sebuah kegiatan sosial yang saat itu kita lakukan di Klaten Jawa Tengah, deket Prambanan. Pelestarian cagar budaya, yang diikuti sama mahasiswa Indonesia dan beberapa bule. Darisana berawal persahabatan berbagai negara. Dari Indonesia terpilih sepuluh mahasiswa dari Universitas ternama dan tidak terlalu terdengar namanya seperti saya hehe. Mulai dari UI, Unnes, Undip, some japanese university, Universitas di kota asal saya sendiri UNISNU dan hanya saya yang berhasi mewakili Universitas Semarang.
Percaya ga percaya saya bisa sampai disana, tapi pengalaman selama seminggu itu adalah hal yang paling ngga bisa dilupakan, Bersama orang-orang baru yang totally new, berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Mungkin selanjutnya saya bisa share pengalaman yang lain melalui Seri #whvdejavato.
 Sekian dulu untuk kali ini, karena isinya sudah terlalu melenceng dari judul, hehe. Thank you for reading!

Rabu, 18 Mei 2016

Sholat diimamin orang Mesir...

Lanjut dengan pengalaman di world heritage volunteer di Jogjakarta, karena masih belum memiliki inspirasi menulis maka saya akan menulis hal paling terkenang saat itu, hehe.
Pertama kali sholat, diimamin orang Mesir.
Kebetulan dari 6 bule yang datang ke WHV Camp saat itu, dua diantaranya adalah muslim, yaitu Gohary dan Amal. Gohary berasal dari Mesir dan Amal dari Tunisia. Karena kegiatan yang cukup padat dan melelahkan biasanya kami sholat sendiri-sendiri di kamar masing-masing. Pada suatu kesempatan setelah berkumpul bersama dan berbincang tanpa ada kegiatan kami teringat bahwa sudah masuk waktu Sholat Isya'. Nah, kesempatan buat jamaah ini mumpung pada kumpul semua, sebelum berpisah juga, hehe... Orang-orang non-muslim dengan tenggang rasa menyediakan kami tempat di ruang utama untuk sholat dan mereka berbincang di teras luar. Sedangkan kami yang muslim sholat berjamaah di dalam. Awalnya abang Gohary yang mengenakan celana pendek selutut mau santai saja sholat dengan begitu apa adanya. Tapi, wahahah sebagai orang indonesia yang kebiasaan pakai sarung tentunya agak gimana gitu ya. Penjaga homestay kami akhirnya meminjamkan sebuah sarung pada abang gohary, awalnya dia bingung memakainya. No, no, it's okay it's no problem to shalat like this. Iya sih, udah menutup aurat dari pusar ke lutut. Tapi akhirnya dia mau memakai sarung dan menjadi imam sholat Isya saat itu. Hehehe
Gohary adalah bule yang paling baik menurut saya, semula Gohary enggan dipanggil dengan sebutan abang. Saya tak tahu kenapa, tapi karena kami mahasiswa lebih muda dari kebanyakan bule itu, jadi kami panggil saja dia dengan sebutan abang Gohary. Hihihi, awalnya dia sempat menolak, tapi akhirnya mau bagaimana lagi. Jadi kami memanggilnya abang Gohary. Abang Gohary baru pertama kali datang ke Indonesia, dia paling ramah dan sering bertukar pikiran dengan saya. Walaupun beberapa hal kami tidak mengerti satu sama lain, namun kami tetap berusaha saling berkomunikasi dengan baik. Walaupun sudah berpisah sedari selesainya kegiatan, abang Gohary paling sering berkomunikasi ddan berharap bisa datang ke Indonesia lagi. Hehehe, siapa sih yang ngga nagih dateng ke Indonesiaa :D

Ini dia foto saya bersama Abang gohary, Amal dan beberapa teman se-kota saya ...