Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Book Review. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 November 2011

Sinopsis The Lost Symbol by Dan Brown


Karya-karya Dan Brown memang sarat dengan nilai sejarah dan budaya. Bukan hanya menyajikan misteri seperti buku kebanyakan, tapi lebih kepada banyak fakta dan pengungkapan yang membuat kita menjadi tahu apa yang selama ini bahkan gak pernah kita pikirkan sama sekali.
Setelah the Da Vinci Code yang fenomenal, tentang petualangan Robert Langdon yang pertama. Kini Dan Brown memberikan kelanjutan kisahnya, alias petualangan Robert Langdon yang kedua di London.
Buku ini bercerita tentang Robert Langdon yang kali ini diundang secara mendadak oleh teman lamanya, Peter Solomon untuk pergi ke London. Ia diundang untuk mengisi ceramah di sebuah acara pertemuan anggota mason yang biasanya tertutup. Ia pun segera meluncur ke London dengan beberapa kendaraan mewah dan pribadi yang biasa digunakan oleh orang-orang kaya seperti Peter Solomon.
Sesampainya di London, ia menemui keanehan karena tidak ada pertemuan yang dilaksanakan disana. Namun, Robert Langdon malah mendapatkan telepon dari orang yang tidak dikenalnya dan menyatakan bahwa temannya, Peter Solomon berada dalam bahaya jika ia tidak segera bertindak untuk menyelamatkannya. Setelah itu muncul sebuah peristiwa mengerikan di tengah museum, karena sepotong tangan ditemukan teracung dengan tanda-tanda yang aneh di sekitarnya. Langdon pun tersentak ketika melihat potongan tangan itu, karena ia mengenali cincin yang dipakaikan disana. Itu adalah tangan dari Peter Solomon, yang sudah dibubuhi beberapa tato yang menandakan suatu undangan kuno untuk melaksanakan suatu tugas khusus – khas mason. Sementara itu, penelpon yang tak dikenal tadi yang rupanya telah menjebak Robert Langdon dan terus memberitahukan perintah padanya.
Di tengah keributan tentang tangan itu dan polisi setempat yang segera mengevakuasi museum, datanglah seorang pimpinan organisasi CIA yang paling ditakuti, ia adalah pimpinan dari organisasi CIA yang memata-matai CIA sendiri. Seorang Jepang yang amat disegani dan dihormati, lalu segera mengambilalih kasus tersebut. Robert Langdon yang mengerti akan pesan sepotong tangan itu pun memberitahukan bahwa tangan itu adalah tangan dari Peter Solomon. Ia terjebak dalam investigasi tersebut seolah-olah CIA ingin menangkapnya karena sesuatu yang ia ketahui.
Sementara itu, adik Peter Solomon, Katherine Solomon pun sedang mencemaskan Kakaknya yang tak kunjung datang ke laboratorium rahasia mereka seperti biasa. Katherine dan Kakaknya diam-diam telah melakukan suatu penelitian di tempat rahasia di dalam sebuah museum.
Setelah meneliti petunjuk-petunjuk yang ada pada potongan tangan itu, Langdon dan Direktur CIA – Inoue Sato serta seorang kepala penjaga setempat menuju ke ruangan yang ditunjukkan oleh potongan petunjuk di tangan itu. Ruangan itu berada di bagian bawah tanah museum tersebut yang tidak pernah dijamah oleh siapapun. Disana mereka menemukan tempat pemujaan aneh, tempat pemujaan orang mason. Mereka juga menemukan sebuah piramida batu yang puncaknya tumpul.
Diam-diam, Direktur Sato telah menyelidiki barang bawaan Robert Langdon dan mencurigai sesuatu yang dibawanya. Profesor Langdon terpojok, namun ia tak ingin memberitahukan barang itu pada mereka karena itu adalah barang rahasia yang dititipkan Peter Solomon kepadanya. Direktur Sato dan Kepala Penjaga mengancam akan menangkapnya, namun seseorang menyelamatkannya dan membawanya keluar dari tempat itu.
Di tempat lain, Katherine akhirnya mendapat berita dari Kakaknya yang mengundang seorang dokter kenalannya ke lab rahasia mereka. Padahal mereka tidak pernah mengundang seorang pun kesana. Tanpa disadari, orang itu ingin memusnahkan laboratorium rahasia mereka dan mencelakakan Katherine.
Robert Langdon diselamatkan oleh arsitek museum yang merupakan teman sesama anggota mason dari Peter Solomon. Orang itu membawanya menyeberangi terowongan yang menuju ke perpustakaan seberang jalan museum. Disana Langdon mulai mengerti tentang misteri piramida mason yang selama ini disangkanya sebagai mitos yang tidak nyata. Barang yang dititipkan Peter kepadanya merupakan puncak dari piramida yang tadi ditemukannya di ruang bawah tanah.
Setelah mendapat telepon dari orang yang tak dikenalnya tadi, Langdon berusaha menghubungi Katherine Solomon dan memberitahukan perihal Kakaknya serta memintanya untuk berhati-hati. Katherine mulai menyadari keanehan yang ada dan berusaha keluar dari laboratorium rahasianya yang pintu masuknya luas dan gelap gulita. Disana ia sempat bersitegang dalam kegelapan dengan orang yang mencoba menghancurkan labnya dan berhasil melarikan diri menuju ke tempat persembunyian Robert Langdon dan Warren Bellamy.
Dari sana mereka mulai memecahkan misteri piramida mason tersebut, sementara pihak CIA mencoba menelusuri jejak mereka. Ketika mengetahui CIA yang memburunya, Langdon bersama Katherine segera melarikan diri melalui ban berjalan menuju ruang bawah tanah perpustakaan lain yang masih terhubung dengan perpus tersebut. Sementara, Warren Bellamy mengalihkan perhatian CIA.
Saat mereka melarikan diri, mereka melihat kobaran api dari sebuah ledakan di suatu tempat dekat sana. Tanpa disadari kobaran itu berasal dari laboratorium Katherine yang dihancurkan oleh penyerangnya tadi sekaligus penelepon misterius Langdon. Orang itu adalah Mal'akh, dalang dari semua kejadian ini serta perampok yang dulu hampir ditembak oleh Peter Solomon. Mal'akh ingin mendapatkan sesuatu dari rahasia piramida mason dan mencoba memecahkannya dengan bantuan Robert Langdon.
Kejadian-kejadian, pelarian, persembunyian dan problematika dengan CIA dan Mal'akh terus terjadi. Sampai akhirnya mereka menemukan Peter Solomon masih hidup. Pertaruhannya bukan hanya nyawa Peter Solomon dan piramida mason saja, namun juga berkaitan dengan keamanan nasional.
Kira-kira siapa penjahat itu sebenarnya? Dan apa kaitan CIA dengan kejadian ini? Silahkan baca bukunya, karena cerita masih sangat panjang, dijamin rasa penasaran anda akan terpuaskan. Dan sedikit bocoran, bahwa sesungguhnya Mal'akh adalah anggota keluarga Solomon juga. Baiklah, kalau saya ceritakan disini tidak akan cukup . So, just read it and you will be amazed ;D

Rabu, 20 Juli 2011

Sinopsis The Blue Nowhere (Dunia Maya) -Jeffrey Deaver-

 Saat asyik mencari buku untuk diinjam di perpustakaan, saya menjumpai sebuah novel yang bentuknya sudah sangat jelek dan lecek. Berada terhimpit antara ratusan buku yang berada di rak buku fiksi. Namun yang membuat saya tertarik adalah judulnya, the blue nowhere atau dunia maya...

Novel the blue nowhere ini merupakan tulisan dari Jeffery Deaver. Termasuk dalam jenis novel techno thriller. Bercerita tentang kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang social engineer yang hampir bisa dikatakan gila karena tidak mampu membedakan kehidupan nyata dan game computer.
Dalam menangani kasus ini, kepala bagian CCU (Computer Crime Units) atau Unit Kejahatan Komputer meminta bantuan seorang hacker, Wyatt Gillette yang sedang dihukum di dalam penjara karena kegiatan hackingnya. Selain itu, dibantu juga dua orang detektif biasa dan mendatangkan seseorang bagian dari teknisi sebuah perusahaan komputer.
Setelah menemukan beberapa petunjuk dari saksi dan pembunuhan sebelumnya, mereka menemukan bahwa sang pelaku mengacu pada tanggal hari-hari penting dalam bidang komputer pada saat membunuh korbannya. Seperti tanggal penciptaan mesin ibm, tanggal publikasi suatu computer baru atau hal-hal yang berhubungan dengan sejarah computer.
Saat tengah menyelidiki kasus tersebut di sebuah tempat, kepala bagian CCU yang memimpin kasus ini meninggal karena bertemu pelaku dan dibunuh di tempat saat itu juga. Pembunuh itu selalu membunuh korbannya dengan menusuk bagian jantungnya.
Dengan terbunuhnya kepala penyelidikan, jabatannya digantikan oleh salah satu detektif.
Pada saat itu juga, sang Hacker Wyatt Gillete mencoba untuk pergi ke rumah mantan istrinya di sebuah perumahan dan akhirnya kembali dsitemukan oleh departemen CCU.
Anggota tim CCU kembali membawa Wyatt Gillete ke markas CCU dan memborgolnya karena dia sempat kabur dari sana.
Dengan kemampuan sang Hacker dan informasi yang didapat dari berbagai sumber di internet dan database yang ada, mereka akhirnya menemukan siapakah sang pembunuh tersebut seiring berjatuhannya korban lain. Penyergapan pun dilakukan sang pelaku kejahatan, namun berkali-kali pelaku dapat kabur dari kejaran polisi. Ternyata pelaku pembunuhan itu memiliki identitas palsu dan seorang partner dalam melakukan kejahatannya.
Kira-kira siapakah sesungguhnya sang pembunuh dan partnernya itu? Baca selengkapnya dalam the blue nowhere karangan Jeffrey Deaver. Dijamin akan lebih seru dan membuat penasaran. Nggak percuma baca buku ini. Hehe...

Senin, 18 April 2011

Sinopsis The Bone Collector

The Bone Collector atau Kolektor Tulang adalah salah satu novel thriller karangan Jeffery Deaver yang sudah diangkat menjadi sebuah film yang berjudul sama dengan bukunya. Novelnya terbit pada tahun 1997 dan  filmnya tahun 1999. Cukup lama ya? Tapi saya akan mencoba menceritakan sedikit tentang novel ini.

Alkisah, ada seorang mantan detektif yang menderita quadriplegia atau kelumpuhan dari leher ke bawah tubuhnya. karena terkena kecelakaan saat bertugas bertahun-tahun lalu. Keadaan itu membuatnya tidak berdaya dan kehilangan semangat hidup hingga merencanakan untuk bunuh diri dengan bantuan seorang dokter yang tergabung dalam jaringan pendukung euthanasia. Namun saat itu juga mantan rekan kerjanya, Lon Sellito, meminta bantuan Lincoln Rhyme untuk memecahkan kasus yang tidak dapat ia tolak.

Kasus itu mengenai penculikan dua orang yang baru mendarat di bandara, penculik menggunakan taksi untuk membawa korbannya dan membunuh mereka dengan cara yang cukup sadis. Korban pertama di kubur di dekat rel kereta api dengan tangan terjulur keluar. Mengenakan cincin pada jarinya yang sudah dikuliti. Korban itu ditemukan oleh seorang petugas patroli bernama Amelia Sachs.

Begitu menerima kasus tersebut Lincoln meminta Amelia Sachs untuk mengamankan TKP dan mengambil beberapa bukti forensic serta petunjuk yang ditinggalkan si pembunuh untuk mereka. Sementara meneliti petunjuk berikutnya dan bukti-bukti di TKP, pembunuh tersebut telah menyiapkan aksi pembunuhan lain.

Korban kedua, seorang wanita diborgol di terowongan dekat pipa uap. Saat polisi berusaha menemukan jejaknya, korban telah mati terebus oleh uap yang sangat panas. Sedikit terlambat untuk menyelamatkan korban itu, lalu Amelia Sachs beraksi menangani forensic dengan dituntun oleh Rhyme melalui headset. Karena merasa enggan menangani forensic, Amelia terpaksa melakukan hal tersebut.

Amelia pun mengajukan pengaduan kepada atasannya karena ia ingin segera dipindahtugaskan pada bagian humas kepolisian. Di sisi lain, seorang Detektif federal mencoba mengambil alih kasus tersebut.

Setelah menemukan petunjuk rencana pembunuhan selanjutnya, Polisi menemukan korban ketiga. Seorang gadis Jerman yang diborgol di terowongan yang penuh dengan tikus dan hewan pengerat. Untungnya korban ini bisa diselamatkan.
Sedikit demi sedikit petunjuk dikumpulkan dan mengarah pada sang pembunuh. Namun, di tengah penyelidikan kasus itu diambilalih dengan paksa oleh agen federal. Yang kemudian meneruskan penyelidikan dengan cara mereka sendiri tanpa melibatkan Rhyme dkk. Merasa telah menemukan pelakunya, mereka melakukan penyergapan ke rumah sang pelaku pembunuhan.

Merasa telah kehilangan semangat hidupnya, Rhyme kembali menyusun pertemuan dengan dokter yang akan membantunya melakukan bunuh diri. Namun, Amelia Sachs kembali dan menyerahkan kembali semua barang bukti dan petunjuk untuk menyelamatkan korban selanjutnya. Agen federal yang ternyata hanya menemukan korban sang pembunuh pun marah dan kembali ke markas Rhyme untuk mengambil semua barang bukti dan menangkap Amelia yang dituduh mencurinya. Untungnya, atasan mereka akhirnya memutuskan agar kasus tersebut dapat kembali ditangani oleh detektif Sellito dkk.karena telah membantu menyelamatkan korban yang akan dibunuh.

Dengan bantuan kerjasama agen federal dan tim Rhyme, penyelidikan itu semakin dapat mengarah pada si pelaku. Bersama itu pula, Rhyme semakin berniat untuk melaksanakan rencana bunuh dirinya setelah berhasil menuntaskan kasus tersebut. Dua korban lagi, seorang ibu dan anaknya diculik kembali dari bandara. Si ibu berhasil diselamatkan saat akan dibunuh di sebuah gereja. Lalu mereka dapat menemukan tempat persembunyian si pembunuh dan menyelamatkan anak tsb.

Setelah peristiwa penggerebekan itu, pembunuh mencoba sasaran lain. Yaitu polisi. Dia mencoba mengubur Amelia Sachs yang untungnya dapat diselamatkan oleh polisi lain. Selanjutnya, di rumah Rhyme, detektif Polling harus terbunuh oleh si pembunuh yang ternyata selama ini menyamar sebagai dokter syaraf Rhyme. Ternyata pembunuh itu adalah Stanton. Orang yang dulu keluarganya menjadi korban dari kasus yang ditangani Rhyme dengan tidak sungguh-sungguh sehingga mencelakakan semua keluarga Stanton. Ia datang untuk membalas dendam pada Rhyme, namun Rhyme dapat melumpuhkannya dengan berpura-pura sakit dan menggigit lehernya.

Dengan matinya sang tersangka usai sudah masalah Rhyme yang menghalangi rencana bunuh dirinya. Namun, Amelia Sachs berusaha untuk mencegahnya dan akhirnya Rhyme tidak jadi meneruskan niatnya karena kasus baru telah menunggu untuk dipecahkan.

Novel ini begitu seru dan membuat penasaran jika anda membacanya. Kira-kira kasus apalagi yang akan ditangani oleh Lincoln Rhyme? Masih banyak hal yang belum disebutkan dan misteri si pelaku, jadi jika anda ingin mengetahui lebih lengkapnya silahkan membaca The Bone Collector.